dulu,
kuajarkan ia alif ba ta tsa,
hingga lancarlah ia membaca Al-Qur'an,
kini,
setiap kata yang diucapkannya,
tak lebih dari semua penghuni kebun binatang,
dulu,
ku beritahu ia do'a sebelum dan sesudah makan,
agar semua yang dimakannya berkah dan mengenyangkan,
kini,
tak sedikit yang dimakannya,
adalah milik orang lain dan ia masih kelaparan,
dulu,
kuusap kepalanya,
sambil bercerita tentang anak Nabi Nuh yang durhaka karena kesombongannya,
hingga lelaplah ia ke dalam mimpi,
kini,
diinjaknya kepalaku,
seraya berteriak, mencaci, dan memaki,
hingga terbenamlah aku ke dasar bumi,
dulu,
ku perlihatkan cara bersopan santun,
dimanapun langkah berjejak,
kini,
diludahinya tata krama,
hingga ku harus berurusan dengan istiadat,
dulu,
Kau menitipkannya padaku,
tanpa sehelai benang,
kini,
aku kembalikan titipan-Mu Tuhan,
lengkap dengan kafannya...
(Ruang Semu, April 2008)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
LOMBA MENULIS REVIEW NOVEL SHUKUFUKU SA RETA JINSEI
“Sebaik-baik teman duduk di setiap waktu adalah buku.” Sebuah kalimat mutiara yang seharusnya jadi pegangan buat...
-
“Sebaik-baik teman duduk di setiap waktu adalah buku.” Sebuah kalimat mutiara yang seharusnya jadi pegangan buat...
-
dulu, kuajarkan ia alif ba ta tsa, hingga lancarlah ia membaca Al-Qur'an, kini, setiap kata yang diucapkannya, tak lebih dari semu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar